Selasa, 14 Januari 2014

Film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” Dibanjiri Air Mata Penonton

- 0 komentar


Sabtu siang, tanggal 21 Desember 2013 saya dan keluarga, beserta sejumlah guru SMAN 1 Bati-bati menyaksilan tayangan perdana film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” di Studio 21 Duta Mall. Sebagian besar penonton yang menghati cerita dalam film ini meneteskan air mata. Film yang diangkat dari novel sastra termashur sebelum Indonesia merdeka hingga sekarang dengan judul yang sama karya Hamka. Meskipun tidak dapat menggambarkan keseluruhan isi novel aslinya, namun kehadiran film ini sudah dapat mengambarkan betapa kayanya kesusastraan Indonesia. Pada film ini dan lebih-lebih pada novel aslinya terungkap bahwa karya sastra Indonesia memiliki nilai-nilai pendidikan, budaya, relegi, dan sosial yang agung yang berakar dari kebudayaan masyarakat Indonesia sendiri.

Film yang konon memakan biaya termahal dibandingkan dengan film-film sebelumnya mengangkat tema cinta yang terhalang oleh dinding adat dan egoisme pelaku. Tema ini tergambar dari tokoh Hayati dan Zainuddin yang saling mencintai dengan ikrar sehidup semati namun terhalang oleh tebalnya tembok pemisah yang berlapiskan adat istiadat masyarakat Minang yang menjadi latar cerita. Film ini memberikan pelajaran bagi manusia, betapa cinta sejati harus dibalut dengan ketulusan hati dan kemurnian jiwa untuk berkorban demi cita cinta. Orang yang mencintai dengan tulus, dia rela mengorbankan kebahagiannya sendiri demi kebahagian orang yang dicintainya. Film ini sangat cocok ditonton oleh para siswa dan kalangan pendidikan agar dapat ditangkap makna hakiki dari dari cinta dan pengorbanan.  Inilah trailer film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” 

 Trailer Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dapat dilihat pada link berikut ini.



[Continue reading...]

Rabu, 01 Januari 2014

POTRET MINORITAS SOSIAL MASYARAKAT PINGGIRAN DI BALIK SEBUAH KADO PERKAWINAN (Ulasan tentang Cerpen “Kado Perkawinan” Karya Hamsad Rangkuti)

- 0 komentar

Oleh: Drs. H. M. Yusransyah, M. Pd.

Sebenarnya tidak ada yang menarik di balik kata kado. Dalam kehidupan nyata, kado merupakan sesuatu yang biasa dalam rutinitas kehidupan manusia. Sebuah kado baru dianggap istimewa jika benda tersebut diberikan oleh orang istimewa atau memiliki nilai ekonomis yang tinggi, atau diberikan pada event yang istimewa pula. Kado perkawinan yang dijadikan sebagai judul cerpen “Kado Perkawinan” karya Hamsad Rangkuti dalam buku kumpulan cerpen Lukisan Perkawinan sama sekali tidak terkait dengan ketiga hal di atas. Lalu mengapa frasa yang terdiri atas dua kata tersebut dijadikan sebagai judul oleh Hamsad Rangkuti? Apa yang menarik dan dianggap istemewa di balik sebuah kado perkawinan sehingga dijadikan sebagai judul oleh pengarangnya?
Kalau kita cermati dengan mendalam, gabungan dua buah kata yang tampak sederhana itu memang pantas dijadikan sebagai judul oleh pengarangnya. Selain karena isi cerita terpusat pada frasa kado perkawinan, juga karena kedua kata itu merupakan kausalitas yang memungkinkan konflik cerita mencapai puncaknya. Dikatakan demikian karena konflik psikologis yang semula berawal dari adanya ketidakmantapan jiwa tokoh akibat rasa malu karena disindir, diejek, diperbincangkan diam-diam sebagai anak tukang cukur: “Anak tukang cukur itu mau menikah. Nasibnya baik. Dia mendapatkan jodoh seorang pegawai negeri. Siapa mengira, anak si tukang cukur, bisa mendapatkan jodohnya seorang pegawai kantoran”. 
Bagi kebanyakan pasangan suami istri yang baru saja melangsungkan hari perkawinan, kado biasanya menjadi pelengkap kebahagiaan, namun kehadiran sebuah kado dalam cerpen ini bersifat kontradiktif. Kado perkawinan yang diberikan oleh teman-teman suaminya ternyata berisi benda-benda yang sangat dibencinya, yaitu alat-alat cukur yang dapat membangkitkan kembali konflik kejiwaannya sebagai keluarga tukang cukur yang sangat dibencinya. Dengan hadirnya kado perkawinan itu terungkaplah siapa sebenarnya Sukri, kekasih yang kini telah menjadi suaminya. Dengan kado perkawinan itu  terungkap kalau seorang pegawai negeri yang kini telah menikahinya ternyata seorang tukang cukur. Dengan terkuaknya isi kado perkawinan itu berarti lenyaplah mimpi-mimpi Rabiah untuk menghapus semua predikat yang terkait dengan tukang cukur. Suami yang diharapkan dapat mengubah status sosialnya ternyata gagal mengubah keadaan yang diimpikannya sejak kecil.  Sejak hari perkawinan itu, Rabiah memang bukan lagi berstatus sebagai anak tukang cukur tetapi telah berganti dengan predikat yang lebih menyakitkan jiwanya, yaitu sebagai istri tukang cukur.
Dalam cerpen ini pengarang tampaknya mengambil jalan tengah. Pada satu sisi pengarang mengambil jalan prontal dengan tidak mengabulkan mimpi-mimpi dan harapan tokoh untuk menghapus predikat yang terkait dengan tukang cukur, namun pada sisi lain pengarang justru mengabulkan impian tokoh untuk bersuamikan seseorang yang memiliki pekerjaan yang dianggap terhormat paling tidak untuk ukurannya. Sukri, kekasih yang kini menjadi suaminya memang seorang pegawai negeri, namun, dia juga memiliki pekerjaan sebagai tukang cukur pada suatu departemen tempatnya bekerja. “Kau tidak boleh kecewa, sayang. Semua pekerjaan itu mulia. Aku adalah tukang cukur di kantorku. Aku mencukur para pegawai di departemen. Banyak pegawai seperti aku.”
Dengan jalan cerita yang demikian, cerpen Hamsad Rangkuti dalam cerpen “Kado Perkawinan” jelas ingin mengungkapkan potret minoritas kelompok sosial pinggiran. Dalam cerpen ini pengarang melukiskan suatu sketsa kehidupan salah satu golongan masyarakat yang diwakili oleh seorang gadis lulusan SMP dalam lingkungan keluarga yang memiliki pekerjaan sebagai tukang cukur. Sebagai kelompok sosial pinggiran seperti ini sangat tepat kalau Rabiah digambarkan oleh pengarang sebagai sosok yang memiliki obsesi dan pola pikir yang menganggap pegawai negeri sebagai pekerjaan bergengsi. Padahal untuk ukuran sebagian besar masyarakat sekarang, pekerjaan sebagai pegawai negeri bukan jabatan yang menjanjikan untuk orang yang berpikir materialistis. Sebagai potret minoritas kelompok sosial pinggiran, karakter  yang demikian memang sangat cocok untuk ukuran mereka. Setidaknya untuk ukuran Rabiah dan masyarakat pinggiran yang ditampilkan pengarang dalam cerpen ini, pegawai negeri dianggap lebih bergengsi dari pekerjaan lain yang ada di sekitarnya. Karena latar yang ditampilkan dalam cerpen ini adalah masyarakat pinggiran yang hanya mengenal beberapa jenis pekerjaan masyarakat, tentu akan dianggap implausibility kalau pengarang membandingkan tukang cukur dengan pengacara, akuntan,  atau dokter spesialis. 
Bagi masyarakat pinggiran, pegawai negeri memiliki nilai lebih dibandingkan dengan tukang cukur, tukang becak, atau buruh tani. Dengan perbandingan yang demikian akan lebih terasa kemasukakalan cerita. Hal ini memang terasa penting sebab pengarang tidak hanya dituntut untuk pandai bercerita, tetapi juga harus bertanggung jawab dari segi kemasukakalan cerita itu. Suatu cerita dikatakan masuk akal apabila cerita itu memiliki “kebenaran” bagi cerita itu sendiri. Dalam konteks ini, “kebenaran” bukan berarti suatu cerita harus benar-benar terjadi. Sesuatu yang benar-benar terjadi dalam masyarakat ini disebut dengan realistik, bukan masuk akal.
Persoalan mendasar yang diangkat Hamsad Rangkuti dalam cerpen ini adalah status sosial yang dikaitkan dengan suatu pekerjaan. Melalui eksplorasi tokoh Rabiah dengan kata-kata yang menyakitkan seperti gunting, sisir, pengetam rambut, dan pisau cukur yang selalu menghantuinya, ejekan yang selalu diterima, akhirnya Rabiah menikah dengan ‘pegawai negeri’ yang diimpikannya agar dapat menaikkan status sosialnya dalam masyarakat. Gambaran yang dilontarkan Hamsad dalam cerpen di atas merupakan gambaran problematis sosial. Dalam cerpen tersebut memang tidak terlalu tampak adanya ejekan dari kelompok sosial yang lebih tinggi terhadap kelompok sosial yang lebih rendah seperti tukang cukur. Ejekan tersebut lebih banyak merupakan tekanan psikologis yang dirasakan tokoh. Secara psikologis, pandangan tentang perbedaan status sosial yang terkait dengan pekerjaan, jabatan, atau sosial ekonomi itu tetap ada meskipun tampak samar-samar.
Dengan hadirnya kado perkawinan yang merupakan pemberian teman suaminya menjadi shock therapy yang dikemas apik oleh Hamsad sebagai titik balik dari semua impian yang diharapkan oleh tokoh Rabiah dan sekaligus merupakan jawaban dari sikap pengarang terhadap masalah yang dilontarkannya. Dari sudut pemikiran dan kenyataan ini, cerpen Hamsad Rangkuti ini memberikan isyarat agar kita pandai menghargai arti pentingnya suatu pekerjaan. Kita tidak boleh memandang rendah terhadap suatu pekerjaan. Dari sudut sastra, cerita semacam ini dianggap sebagai alat penegur, refleksi, perenungan, dan penciptaannya dapat dianggap sebagai guru masyarakat pembaca atau penikmatnya.
Melalui cerita yang disajikan, pengarang berusaha mengingatkan pembacanya agar jangan memandang rendah status sosial seseorang berdasarkan pekerjaan semata.  Suatu pekerjaan jangan dinilai dari kacamata orang lain. Semua pekerjaan mulia, asal dapat memberikan penghasilan yang halal. Pesan inilah yang dinasihatkan ibu Rabiah: “Kau malu anakku?” “Telingaku tebal menahan malu, Ibu. Mengapa ayah memilih pekerjaan tukang cukur? Apa tidak ada pekerjaan lain yang bisa dikerjakan ayah?”. “Semua pekerjaan itu mulia anakku.” Begitu si Ibu menasihati anak-anak mereka tentang makna dari sebuah pekerjaan bagi manusia. Kecuali barangkali ibu dari istri seorang maling.
Penggambaran ini sangat tepat terhadap suatu kondisi masyarakat yang selalu ‘mencuatkan’ status sosial seseorang tanpa mau mempertimbangkan dengan bijak apalagi mensyukurinya. Padahal masih banyak lagi Rabiah-Rabiah dan tukang cukur lainya yang juga mengimpikan kehidupan yang lebih, namun mereka tetap mensyukuri apa yang telah mereka peroleh. Inilah kenyataan hidup yang harus dijalani oleh manusia. Apapun pekerjaan yang kita geluti semuanya patut untuk kita syukuri.
Barangkali inilah sekilas nilai yang dapat kita peroleh dari cerpen “Kado Perkawinan” karya Hamsad Rangkuti. Nilai-nilai seperti inilah yang membuat cipta sastra menjadi lebih bermakna dalam arti mengajar dan merangsang seseorang untuk berpikir dan merenung tentang hidup dan kehidupan yang sesungguhnya. Dengan nilai-nilai yang dikandungnya, sastra akan mampu membuat rasa kemanusiaan manusia menjadi lebih manusiawi. 
Sebagai potret minoritas sosial, cerpen ini memang tidak berusaha untuk mengeksplorasikan sesuatu dengan lebih mendalam. Yang dipaparkan hanya sebagian permukaannya saja, yakni lukisan secara realistis. Ramsad Rangkuti telah berusaha untuk menyajikan sifat simbolik dari ceritanya yang dikemukakannya dengan gaya sastra yang terkesan utopis. Dengan gaya pemaparan yang biasa seperti ini,  cerita lebih berkesan karena realisasi dari realisme itu akan lebih cepat tersampaikan kepada para pembaca. 
Dari sisi yang lain, cerpen Hamsad ini merupakan protes sosial terhadap perilaku masyarakat yang dilihat dan ditemuinya. Setiap orang hendaknya selalu menghargai segala sesuatu yang dilakukan meskipun terkadang sulit untuk diterima sebagai kenyataan. Janganlah selalu menilai seseorang secara kasat mata. Manusia harus dinilai dari keluhuran hati seseorang untuk berbuat. Tampak sekali protes sosial Hamsad Rangkuti cukup tajam dan menusuk di dalam cerpen ini. Kata-kata ikonis seperti sisir, gunting, pisau cukur, pengetam rambut dan tukang cukur yang disuarakan oleh Hamsad terasa sebagai pemaparan realistis, tajam, dan gamblang sehingga sangat mudah diterima dan dicerna oleh masyarakat pembaca dan penikmat cerpen ini.
Penggambaran secara nyata membuat cerita ini sangat komunikatif dan yang lebih dipentingkan oleh Hamsad adalah unsur komunikasinya, yaitu sampainya suasana sosial yang disorotnya kepada penikmat karyanya (pembaca).  Apabila komunikan dapat menangkap apa yang dipaparkan, berarti misi yang disampaikan cerpen ini berhasil. Misi demikian memang dimiliki cerpen ini, karena tidak ada unsur yang sublim, semua yang diungkapkan pengarang dapat sepenuhnya diterima oleh pembaca.
(Penulis, Guru Bahasa dan Sastra Indonesia
SMA Negeri 1 Bati-bati)






[Continue reading...]

Sabtu, 08 Juni 2013

MENEGAKKAN DISIPLIN SISWA MELALUI SISTEM POIN PELANGGARAN (KARTU KUNING)

- 3 komentar

Oleh: Drs. H. M. Yusransyah, M. Pd.
(Kepala SMA Negeri 1 Bati-bati)

Untuk menciptakan sekolah yang berkualitas diperlukan iklim sekolah yang kondusif. Salah satu iklim yang memungkinkan berlangsungnya suatu proses pendidikan berjalan dengan efektif sebagaimana yang diharapkan semua pihak adalah tegaknya disiplin sekolah. Disiplin sekolah yang berwibawa dan ditaati oleh semua komponen pendidikan, terutama oleh siswa merupakan kata kunci untuk menbentuk sekolah yang berkualitas. 
Disiplin merupakan lapis terluar dari suatu sistem pendidikan di sekolah, sedang lapis terdalamnya adalah kualitas. Sebelum masyarakat mengetahui kualitas sekolah tersebut, masalah disiplin sudah terlihat dengan jelas oleh masyarakat. Disiplin sekolah yang berwibawa dengan mudah dapat dilihat oleh masyarakat dari sikap, tingkah laku, dan perbuatan para guru dan siswanya. Demikian juga sebaliknya, sekolah yang memiliki tata tertib yang mandul dengan mudah pula dapat diketahui oleh masyarakat melalui siswanya.
Kepala sekolah, guru, dan segenap pelaksana pendidikan adalah ujung tombak pengemban misi pendidikan nasional di sekolah perlu berupaya sekuat tenaga melalui berbagai terobosan inovatif untuk dapat mengikat para siswa agar dapat bertindak, berlaku, bersikap, berbuat, dan perilaku sesuai koridor penegakan disiplin sekolah.

Pengertian

Sistem Poin Pelanggaran (Kartu Kuning) merupakan suatu alternatif yang dapat diberlakukan di sekolah sebagai upaya untuk menegakkan disiplin sekolah. Dalam pemberlakuan sistem ini, siswa seolah-olah dibawa pada suatu permainan sepak bola dalam suatu gelanggang permainan di sekolah. Sistem ini mengharuskan agar setiap pelanggaran tata tertib sekolah yang dilakukan oleh para siswa diberikan Kartu Kuning (peringatan) yang memiliki tingkatan poin pelanggaran sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan siswa. Setiap poin pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh para siswa dikumpulkan sampai batas tertentu selama setahun. Jika poin pelanggaran yang dilakukan oleh para siswa telah mencapai batas maksimal, maka Kartu Kuning tadi dapat berubah menjadi Kartu Merah sebagai isyarat bahwa siswa tersebut harus dikeluarkan dari gelanggang permainan sekolah (diberhentikan).
Pemberian Kartu Kuning dalam pemberlakuan Sistem Poin Pelanggaran sebenarnya merupakan penggabungan teori pemberian hukuman yang dikemukakan Schaefer dan teori belajar yang menyenangkan dalam teori PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Schaefer (1996: 99-107) mengemukakan dua puluh pedoman dalam menjatuhkan hukuman kepada siswa yang melanggar disiplin sekolah. Dari dua puluh pedoman tersebut, terdapat enam pedoman yang mengilhami pemberlakuan Sistem Poin Pelanggaran seperti berikut ini.
1.    Hukuman itu harus jelas dan terang.
2.  Hukuman harus konsisten.
3.  Hukuman diberikan dalam waktu secepatnya.
4.  Bentuk-bentuk hukuman yang diberikan sebaiknya melibatkan siswa.
5.  Pemberi hukuman harus objektif.
6.  Hukuman sebaiknya tidak bersifat fisik.
    
Fungsi dan Batas Pemberlakuan
Sistem Poin Pelanggaran yang dapat diberlakukan di sekolah dengan fungsi sebagai berikut:
1.             Sebagai dasar bagi para guru dan pelaksana pendidikan lainnya dalam rangka menegakkan tata tertib sekolah agar selalu ditaati oleh para siswa.
2.             Sebagai pedoman bagi para guru dan pelaksana pendidikan dalam rangka menentukan nilai kepribadian siswa yang mencakup kelakuan, kerajinan, dan kerapian.
3.             Sebagai pedoman bagi para siswa dalam berbuat, bertindak, bersikap, dan bertingkah laku sesuai tata tertib sekolah dan berusaha untuk menghindari berbagai larangan yang tercantum dalam jenis pelanggaran yang dapat diberi Kartu Pelanggaran (Kartu Kuning).
4.       Sebagai sarana kontrol bagi orang tua/ wali untuk mengetahui secara objektif tentang kepribadian siswa selama mereka berada di sekolah.
Siswa dapat diberi Kartu Kuning pada pemberlakuan Sistem Poin Pelanggaran apabila dia melanggar tata tertib sekolah selama mereka:
1.       Berada dalam lingkungan sekolah, baik ketika sedang belajar, waktu istirahat, waktu ibadah, atau waktu berada di lingkungan kantin sekolah.
2.             Memakai pakaian seragam sekolah, termasuk dalam perjalanan, baik ketika pergi sekolah maupun dalam perjalanan sepulang dari sekolah.
3.             Berada di lingkungan sekolah di luar jam belajar resmi, termasuk pada kegiatan les (pengayaan) di sore hari atau pada kegiatan ekstrakurikuler yang ditentukan sekolah.

Persiapan Pelaksanaan
Pemberlakuan sistem poin pelanggaran (Kartu Kuning) di suatu sekolah dapat dimulai dengan melakukan persiapan pelaksanaan. Pada tahap persiapan ini kepala sekolah, guru, dan pelaksanakan pendidikan mengidentifikasi apa saja tata tertib sekolah yang berbentuk larangan-larangan atau perintah yang harus dilaksanakan dan dihindari siswa. Masing-masing butir tata tertib diberi bobot yang sesuai tingkat pelanggaran atau perintah itu sendiri. Pelanggaran yang tergolong ringan seperti tidak memakai atribut yang lengkap pada pakaian seragam siswa diberi bobot pelanggaran yang kecil, misalnya 1. Sebaliknya pelanggaran yang cukup berat seperti berkelahi dapat diberi bobot pelanggaran yang tinggi, misalnya 5. Penentuan jenis pelanggaran dan bobot untuk masing-masing pelanggaran disesuaikan dengan visi dan misi sekolah, keadaan lingkungan, serta kultur masyarakat di sekitar sekolah. Sebagai contoh, pada sekolah-sekolah yang memiliki visi dan misi yang terkait dengan pengembangan nilai keagamaan atau sekolah umum yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam dan agamis seperti di Aceh atau Martapura dapat mencantumkan poin “tidak memakai kerudung” sebagai suatu pelanggaran dengan bobot pelanggaran yang cukup tinggi. Yang jelas, jenis pelanggaran yang dibuat sekolah harus mencakup tiga aspek penilaian kepribadian, yaitu kelakuan, kerajinan, dan kerapian. Penentuan jenis dan bobot pelanggaran ini sebaiknya melibatkan seluruh guru, siswa, orang tua, atau Komite Sekolah.
Di samping untuk menentukan jenis dan bobot pelanggaran, kepala sekolah juga dapat menunjuk dan menugaskan satu  atau beberapa guru yang diberi tugas sebagai penanggung jawab pemberlakuan sistem ini. Para pendidik yang dapat ditunjuk misalnya Wakasek Kesiswaan sebagai koordinator dan dibantu oleh para wali kelas sebagai administrator pelaksanaan sehari-hari.
Setelah daftar pelanggaran yang merupakan tata tertib sekolah tadi dirumuskan dan disetujui oleh semua komponen sekolah, maka perlu diadakan sosialisasi kepada seluruh siswa, orang tua, dan Komite Sekolah.

Pemberlakuan di Sekolah
Pelaksanaan Sistem Poin Pelanggaran (Kartu Kuning) di sekolah sebenarnya sangat sederhana, melalui beberapa tahap. Pertama, setiap ada pelanggaran tata tertib yang dilakukan siswa diberi Kartu Kuning oleh guru yang menemukannya dengan mengisi nama, kelas, jenis pelanggaran, skor pelanggaran, serta tanggal pelanggaran. Guru yang bersangkutan memberikan tanda tangan pada kartu tersebut. Guru harus memberitahukan jenis pelanggaran yang dilakukannnya disertai dengan bukti pelanggaran, misalnya dengan menyebutkan waktu dan tempat pelanggarannya. Jika memungkinkan, pemberian Kartu Kuning sebaiknya diberikan pada saat itu juga, pada saat siswa tertangkap tangan ketika melakukan pelanggaran.
Kedua, Kartu Pelanggaran (Kartu Kuning) tersebut diserahkan kepada Wali Kelas untuk direkapitulasi pada lembar rekapitulasi kartu pelanggaran yang disediakan sekolah. Lembar rekapitulasi pelanggaran harus memuat identitas siswa, kolom tanggal pelanggaran, jenis pelanggaran, serta jumlah poin pelanggaran yang telah terkumpul.
Ketiga, setelah jumlah skor (bobot) pelanggaran seorang siswa mencapai 30 % dari batas maksimum, Wali Kelas merekomendasikan kepada Wakasek Kesiswaan selaku koordinator untuk memanggil orang tua/ wali siswa sebagai panggilan pertama. Setelah rekapitulasi pelanggaran tata tertib siswa mencapai 60 %, Wali kelas merekomendasikan untuk memanggil orang tua/ wali sebagai panggilan kedua. Selanjutnya, setelah rekapitulasi pelanggaran mencapai 90 % dari batas maksimum, Wali Kelas merekomendasikan untuk memanggil orang tua/ wali sebagai panggilan ketiga.
Keempat, pada panggilan ketiga, orang tua/ wali dan siswa yang bersangkutan diminta untuk menandatangani pernyataan bahwa siswa dan orang tua dapat menerima keputusan sekolah dan tidak menuntut jika siswa dikeluarkan dari sekolah, setelah rekapitulasi pelanggaran siswa mencapai 100 %. Surat pernyataan orang tua dan siswa sebaiknya disediakan sekolah di atas kertas segel atau di atas kertas biasa yang diberi materai.
Kelima, setelah rekapitulasi pelanggaran mencapai 100%, Wakasek Kesiswaan merekomendasikan kepada Kepala Sekolah untuk mengeluarkan surat pemberhentian yang ditujukan kepada orang tua siswa siswa.
Keenam, pada setiap akhir semester, Wali Kelas mengisi nilai kepribadian siswa berdasarkan jumlah skor pelanggaran siswa pada masing-masing aspek kepribadian (kelakuan, kerajinan, dan kerapian). Kriteria penentuan nilai kepribadian dalam rapor dibuat oleh sekolah masing-masing, misalnya:  pelanggaran 0 sampai 2 poin memperoleh nilai A (sangat baik), pelanggaran 3 sampai 4 poin memperoleh nilai B (baik), pelanggaran 5 sampai 7 poin memperoleh nilai C (sedang), dan pelanggaran 8 poin ke atas memperoleh nilai D (kurang).


[Continue reading...]

Sabtu, 16 Maret 2013

MENGENAL KERA PEMALU DARI PULAU KAGET

- 2 komentar

Oleh: Drs. H. M. Yusransyah, M. Pd.

Pulau Kaget yang sedang kami kunjungi saat ini merupakan salah satu kawasan cagar alam yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia dengan Surat Keputusan nomor 701/Kpts/Um/11/1976 tanggal 6 November 1976. Pulau Kaget terletak di Muara Sungai Barito, di sebelah Selatan Pulau Kalimantan seluas 30 hektare. Ditetapkannya Pulau Kaget sebagai kawasan cagar alam dimaksudkan agar flora dan fauna yang terdapat di dalamnya dapat lestari dan terhindar dari ancaman kepunahan akibat tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab terhadap lingkungannya.
Flora yang hidup di Pulau Kaget terdiri berbagai jenis dan yang lebih mendominasi adalah jenis vegetasi berupa tumbuhan jenis rambai (sonneratia Sp). Pohon-pohon yang hidup di Pulau Kaget tampak tersusun rapi dan menimbulkan kesan indah bagi pengunjung.  Terdapat berbagai jenis fauna yang hidup di Pulau Kaget dari jenis kera. Salah satu primata yang hidup di Pulau Kaget adalah bekantan (nasalis larvatus). Bekantan sering pula disebut dengan pika, bakara, bentangan, raseng, kera Belanda, kera hidung panjang, dan lain-lain.  
Bekantan memang tergolong jenis monyet. Namun, di seluruh dunia, binatang ini hanya ada di Indonesia, yaitu di Pulau Kalimantan. Itu pun tidak semua hutan yang ada di Kalimantan dihuni oleh binatang ini. Dia hanya hidup di hutan-hutan rawa, terutama di pinggiran sungai, termasuk di Pulau Kaget ini. Jumlahnya memang sangat terbatas. Itulah sebabnya pemerintah menetapkan bekantan sebagai binatang dilindungi melalui Ordonansi Perlindungan Binatang Liar Tahun 1931 Nomor 134 dan Nomor 266.
Jika dibandingkan dengan primata lainnya, bekantan memiliki beberapa persamaan dan perbedaan. Persamaan yang paling mendasar terlihat dari tempat hidupnya, bulu, dan ekornya. Sama seperti primata lainnya, bekantan juga hidup di pepohonan, memiliki bulu yang menutupi seluruh tubuh, serta memiliki ekor yang cukup panjang.
Di antara perbedaan bekantan dengan primata lainnya, dapat dilihat dari jenis hutan tempat hidupnya. Kalau monyet pada umumnya terdapat pada semua jenis hutan sedang bekantan termasuk kera endemik yang hanya hidup di Pulau Kalimatan, terutama di pinggiran hutan dekat sungai, hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar, hutan bakau yang ada di wilayah Kalimantan, termasuk di Pulau Kaget.
Sebagaimana primata sejenis, hampir semua bagian tubuh bekantan ditumbuhi rambut atau bulu. Jika dilihat dari warna bulunya, terdapat perbedaan yang mencolok antara bekantan dengan jenis monyet lainnya. Kalau jenis primata lain didominasi oleh warna-warna seperti hitam, abu-abu, dan ada pula yang agak keputih-putihan sedang bekantan didominasi oleh warna cokelat kekuning-kuningan, cokelat kemerah-merahan, dan cokelat merah tua. Warna ini terdapat pada kepala, leher, punggung, dan bahunya. Bagian dada, perut, dan ekornya berwarna putih abu-abu atau putih kekuning-kuningan. Bulu pada pipi bagian belakang bekantan jantan berwarna pucat kemerah-merahan sedangkan pada bekantan betina berwarna kekuning-kuningan.
Pada anak bekantan, warna yang paling dominan adalah jingga kemerah-merahan. Pada anak bekantan yang baru saja dilahirkan dan masih belum lepas dari dada ibunya, warna yang paling mencolok pada bagian mukanya adalah warna biru. Setelah berusia beberapa hari warna berubah menjadi cokelat kemerah-merahan.
Yang paling menonjol pada bekantan adalah hidungnya yang panjang. Keadaan hidung pada bekantan dapat menunjukkan identitas pemiliknya. Bekantan jantan memiliki hidung panjang dan agak gepeng serta melengkung, terkulai panjang sampai menutupi mulut. Bekantan betina hidungnya mancung, tetapi tidak gepeng seperti yang dimiliki bekantan jantan.
Dilihat dari cara berpindah atau berjalan, terdapat tiga cara berpindah bekantan sebagai berikut.
1.        Bergerak dari dahan ke dahan (branchiating) dengan menggunakan keempat anggota badannya, yaitu dua tangan dan dua kaki. Cara ini dilakukannya apabila jarak antarpohon cukup rapat. Dalam keadaan demikian, bekantan-bekantan itu dapat berlari secepat-cepatnya. Dalam keadaan aman bekantan-bekantan itu bergerak dengan perlahan-lahan mengikuti sang pemimpin. Bukan hanya arah sang  pemimpin yang mereka ikuti, tidak jarang dahan yang dilewati sang pemimpin itu pun diikuti oleh anggota rombongannya.
2.        Bergerak dengan cara meloncat (leaping) dari satu dahan atau ranting ke dahan atau ranting pohon yang lain. Bergerak dengan cara ini, bekantan menggunakan keempat anggota tubuhnya. Kedua kaki digunakan sebagai titik tumpu loncatan yang disesuaikan dengan jarak loncat yang akan ditempuh. Jika jarak antara dahan ke dahan atau antara ranting yang satu ke ranting yang akan diloncati agak dekat tentu cara bertumpunya akan berbeda dibandingkan dengan meloncat pada jarak yang jauh. Adapun kedua tangannya digunakan untuk berpegang pada dahan atau ranting setelah tubuhnya menjelang sampai pada dahan atau ranting yang dituju. Daya loncat bekantan cukup jauh, bahkan ada yang mencapai lebih dari lima meter.  Ada tiga jenis posisi loncatan bekantan, yaitu
a)    Meloncat dari dahan yang satu ke dahan yang lain atau dari ranting yang satu ke ranting lain yang sama tingginya. Pada posisi seperti ini, jarak loncatan bekantan tidak terlalu jauh jika dibandingkan dengan posisi loncatan lainnya;
b)   Meloncat dari dahan atau ranting yang lebih tinggi ke dahan atau ranting yang lebih rendah. Meloncat dalam posisi seperti ini, jarak loncatannya relatif lebih jauh dibandingkan dengan loncatan pada posisi loncatan lainnya;
c)    Meloncat dari dahan atau ranting yang tinggi ke dahan atau ranting yang berada di bawahnya.
3.      Bergerak dengan cara menggantung (hanging leaping), yaitu bergerak atau berjalan dengan cara bergelantungan di bawah dahan atau berayun-ayun dari satu ranting ke ranting lainnya.
Ketiga cara bergerak itu dilakukan jika bekantan berada di atas pohon. Namun, jika mereka berada di tanah, mereka dapat bergerak dengan cara berjalan dengan menggunakan kedua tangan dan kaki. Untuk hal-hal tertentu bekantan juga dapat menyeberangi sungai dengan cara berenang atau menyelam di bawah permukaan air sungai atau air laut.
Cara kedatangan dari tempat persembunyiannya tampak unik. Bekantan yang mula-mula keluar dari tempat  persembunyiannya adalah bekantan besar yang menjadi pimpinan dari kelompok bekantan itu. Mula-mula ia melihat ke sana ke sini, seolah-olah mencari tahu apakah daerah yang didatanginya benar-benar aman atau tidak. Setelah dilihatnya cukup aman, sang pemimpin memberi isyarat, seolah-olah berseru, “Mari teman-teman kita pesta makan, di sini aman-aman saja.” Tidak lama kemudian muncul pula beberapa ekor bekantan lain untuk mengikuti jejak sang pemimpin. Setelah itu, berdatangan pula bekantan lainnya, termasuk bekantan yang masih kecil dan bekantan betina yang membawa anak yang masih mendekap erat pada dada ibunya.
Namun, ketika kami sedang asyik-asyiknya menyaksikan bekantan yang berhidung panjang itu, tiba-tiba buah rambai jatuh tepat di atas kepala Fitri. Dia terkejut dan berteriak histeris. Suaranya yang keras rupanya mengagetkan bekantan-bekantan yang sedang berpesta makan. Mereka menjadi ketakutan begitu melihat kami sedang memperhatikan mereka. Oleh karena itu, secara spontan sang pemimpin bersuara keras sebagai alarm call, seolah-olah memberikan isyarat pada anggotanya tentang adanya bahaya. Mendengar isyarat itu, beberapa ekor bekantan yang tubuhnya dua kali lebih besar daripada yang betina keluar dari semak-semak pohon. Rupanya beberapa ekor bekantan jantan yang besar itu adalah para jawara yang dipercaya mampu menjaga keamanan. Mereka tampil ke depan, ke arah tepian sungai, seolah-olah mereka mengetahui bahwa musuh utamanya selalu berasal dari arah sungai, terutama dari manusia.
Para jawara itu berbaris membuat pagar betis. Sementara itu, anggota kelompoknya yang semula mencari makanan pada pohon-pohon di pinggiran sungai segera berpindah ke pohon yang berada di bagian dalam Pulau Kaget untuk berlindung pada jawara yang seolah-olah sudah siap tempur itu. Akan tetapi, karena kami tidak memberikan respons sedikit pun terhadap sikap mereka, para jawara yang telah siap tempur itu secara berangsur-angsur membubarkan dirinya, kemudian menghilang di tengah hutan di Pulau Kaget.
Menurut  sumber yang dapat dipercaya, dalam setiap kelompok bekantan selalu ada pemimpin yang mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan kelompoknya. Setiap kelompok selalu ada petugas-petugas lain, di antaranya petugas keamanan. Petugas keamanan itu terdiri atas para jagoan atau para jawara yang biasanya bertubuh besar, kuat, dan pemberani. Jika ada gangguan keamanan, mereka inilah yang lebih dahulu tampil ke depan melindungi anggota kelompoknya. Dalam keadaan tertentu, sang pemimpinlah yang terjun langsung bersama-sama para jawara itu untuk menghadapi musuh seperti  yang baru saja kami saksikan.
Disarikan dari buku
Menyelusuri Tepian Pulau Kaget
Karya Drs. M. Yusransyah
Penerbit: Sasmita Utama, Yogyakarta
[Continue reading...]

Senin, 04 Maret 2013

PENILAIAN KINERJA GURU (PKG), TUNTUTAN KUALITAS PROFESI GURU

- 0 komentar

Oleh: Drs. H. M. Yusransyah, M. Pd.*
Besarnya biaya yang telah dikeluarkan pemerintah untuk membayar tunjangan profesi guru yang memiliki sertifikat profesi guru menjadi alasan bagi masyarakat untuk menuntut pembelajaran yang berkualitas dari guru yang telah bersertifikat profesi.  Dari sekitar 2,7 juta guru yang ada di Indonesia terdapat sekitar 734.000 guru yang telah memiliki sertifikat profesi. Konon, pada tahun 2012 saja pemerintah telah menyiapkan lebih dari 30 triliun rupiah untuk membayar tunjangan profesi guru dengan harapan agar mutu pendidikan dapat meningkat. Apakah dengan sertifikasi kualifikasi profesi guru meningkat?
Hasil penelitian yang dilakukan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) menunjukkan bahwa kualitas profesionalitas guru setelah mendapat tunjangan profesi tidak meningkat. Program sertifikasi tidak memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kualitas kinerja guru dalam kegiatan belajar mengajar. Peningkatan kesejahteraan guru melalui sertifikasi tidak berjalan lurus dengan peningkatan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan para guru. Hal ini dikemukakan oleh Kepala Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMP dan PMP) Kemdiknas, Syawal Gultom akhir-akhir ini.
Keadaan ini amat ironis, mengingat amanat konstitusi tentang hakikat dan tujuan pendidikan menegaskan, pendidikan bukan hanya merupakan pilar terpenting dalam upaya mencerdaskan bangsa, juga merupakan syarat mutlak bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan. Pasal 28 ayat (1) UUD 1945 menyatakan: “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya demi kesejahteraan umat manusia.”
Guru Ujung Tombak Pendidikan
Guru merupakan elemen kunci dalam sistem pendidikan di sekolah. Komponen apapun yang ada di sekolah, mulai dari kurikulum, sarana-prasarana, media, sampai biaya yang tinggi tidak akan banyak berarti apabila esensi pembelajaran yaitu interaksi guru dengan peserta didik tidak berkualitas. Komponen lain, seperti kurikulum, sarana pendidikan, biaya, dan media pembelajaran yang digunakan di sekolah baru akan “hidup” dan berfungsi dengan optimal apabila dilaksanakan oleh guru yang profesional dan berkualitas. Begitu pentingnya peran guru dalam mentransformasikan input-input pendidikan, hingga  para pakar menyatakan,  di sekolah tidak akan mengalami perubahan atau peningkatan kualitas tanpa adanya perubahan dan peningkatan profesionalitas dan kualitas guru yang mengelola pembelajaran.
Pembelajaran merupakan jiwa institusi pendidikan yang mutunya wajib ditingkatkan terus-menerus. Hal ini dapat dimengerti karena peserta didik mendapatkan pengalaman belajar fomal terbanyak di dalam  proses pembelajaran di sekolah. Kondisi ini menuntut semua pihak untuk menyadari akan pentingnya peningkatan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan yang menempatkan guru sebagai ujung tombaknya. Oleh sebab itu, profesi guru harus dihargai dan dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat dan berkualitas. Guru memiliki fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat penting dalam mencapai visi pendidikan, yaitu menciptakan insan Indonesia yang cerdas, komprehensif, dan kompetitif.
Sayangnya, dalam kultur masyarakat Indonesia sampai saat ini pekerjaan guru masih cukup tertutup. Bahkan atasan guru seperti kepala sekolah dan pengawas sekali pun tidak mudah untuk mendapatkan data dan mengamati realitas keseharian  performance guru di hadapan peserta didik. Adanya program kunjungan kelas oleh kepala sekolah atau pengawas juga tidak dapat mendeskripsikan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan guru secara utuh. Tidak jarang guru berusaha menampilkan kinerja terbaiknya baik pada aspek perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran hanya pada saat dikunjungi. Selanjutnya ia akan kembali bekerja seperti sedia kala, kadang tanpa persiapan yang matang serta tanpa semangat dan antusiasme yang tinggi.
Ketika kualitas pendidikan melorot, guru cenderung mencari kambing hitam untuk menutupi rendahnya kualitas pembelajaran yang dilaksanakannya. Ketika hasil belajar siswa rendah, guru sering hanya menyalahkan peserta didik sebagai orang yang malas belajar, tanpa pernah mau mengevaluasi kualitas pembelajaran yang dilaksanakannya. Padahal kalau kita mau jujur, mau bertanya pada diri sendiri, mau merenung dan merefleksikan secara objektif, ada kemungkinan akan berpulang pada diri guru sendiri. Hasil pendidikan yang rendah tidak selamanya disebabkan oleh peserta didik yang malas belajar. Meskipun berkaitan dengan faktor peserta didik, guru masih perlu bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia telah melaksanakan pembelajaran yang dapat merangsang semangat belajar peserta didiknya? Jika tidak, maka tidaklah layak jika seorang guru menyalahkan peserta didiknya. Tidak ada kualitas hasil belajar peserta didik yang rendah, kecuali kualitas pelaksanaan pembelajaran yang rendah pula.
Jika rendahnya kualitas pembelajaran yang dilaksanakan disebabkan oleh rendahnya tingkat kesejahteraan guru, maka program sertifikasi seharusnya merupakan jawaban semua itu. Program sertifikasi guru yang sudah dimulai sejak tahun 2005 pada dasarnya dimaksudkan untuk mengangkat profesi guru sembari meningkatkan kesejahteraan mereka dengan mengangkat pekerjaan guru sebagai suatu profesi dengan standar gaji yang baik. Sertifikat pendidik merupakan bukti formal sebagai pengakuan negara yang diberikan kepada para guru dan dosen yang memenuhi syarat sebagai tenaga profesional ( UU Nomor 14 Tahun 2005). Guru sebagai tenaga profesional mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang memiliki pendidikan dan kompetensi keguruan yang memadai.
PKG Kunci Profesionalitas Guru
Predikat sebagai tenaga profesional melalui program sertifikasi guru idealnya diikuti dengan peningkatan kualitas kinerja guru. Karena itulah diperlukan standarisasi kompetensi yang harus dicapai guru dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakannya. Untuk itulah  perlu dikembangkan suatu instrumen yang dapat menjamin terlaksananya pembelajaran yang bermutu. Instrumen yang dipilih untuk menjamin terlaksananya pembelajaran yang berkualitas oleh para guru tersebut adalah melalui Penilaian Kinerja Guru (PKG) yang akan diberlakukan secara efektif mulai 1 Januari 2013.
Dalam Permenegpan dan RB No. 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, Penilaian Kinerja Guru merupakan penilaian dari tiap butir kegiatan tugas utama guru dalam rangka pembinaan karier kepangkatan dan jabatannya.
Pelaksanaan PKG bukan untuk memperlambat atau menghambat jenjang  kepangkatan guru seperti yang diduga para guru pada akhir-akhir ini. Para guru mensinyalir kalau profesi mereka kerap menimbulkan kecemburuan profesi lain akibat cepatnya kenaikan pangkat bagi guru yang berprestasi. PKG murni dilaksanakan untuk mewujudkan guru yang profesional, karena harkat dan martabat suatu profesi ditentukan oleh kualitas layanan profesi yang bermutu. Melalui PKG dapat ditemukan secara tepat kegiatan guru di dalam kelas dan selanjutnya membantu mereka untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. Hal ini akan memberikan kontribusi secara langsung pada peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan, sekaligus membantu pengembangan karier guru sebagai tenaga profesional. Untuk meyakinkan bahwa setiap guru adalah seorang profesional di bidangnya dan sebagai penghargaan atas prestasi kerjanya, maka PKG harus dilakukan terhadap guru di semua satuan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Pelaksanaannya
Dalam Permenegpan dan RB No. 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, PKG dilaksanakan untuk mencapai dua tujuan utama, yaitu: (1) menjamin bahwa guru dalam melaksanakan pekerjaannya secara profesional, (2) menjamin bahwa layanan pendidikan yang diberikan oleh guru di sekolah adalah berkualitas.
Penilaian Kenerja Guru dilakukan oleh kepala sekolah atau wakil kepala sekolah atau guru senior yang berkompeten. Istilah berkompeten dalam konteks PKG merujuk pada mereka yang telah mengikuti pelatihan penilaian dan memperoleh sertifikat/legalitas sebagai asesor, serta ditugasi oleh kepala sekolah. Penilaian dilakukan dua kali dalam satu tahun, yaitu penilaian formatif dan penilaian sumatif. Penilaian formatif dilaksanakan pada awal tahun dan penilaian sumatif pada akhir tahun. Hasil penilaian formatif digunakan sebagai dasar penyusunan profil kompetensi dan perencanaan program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) tahunan bagi guru. Hasil penilaian sumatif digunakan untuk memberikan nilai terhadap prestasi kerja guru, yaitu untuk menghitung perolehan angka kredit profesi guru pada tahun tersebut.
Terdapat empat (4) kelompok kompetensi yang terbagi menjadi empat belas (14) kompetensi yang menjadi objek penilaian dalam PKG. Kompetensi pedagogi terbagi menjadi tujuh (7) kompetensi. Kompetensi kepribadian terbagi menjadi tiga (3) kompetensi. Kompetensi sosial terdiri atas dua (2) kompetensi, dan kompetensi profesional terbagi menjadi dua (2) kompetensi. Masing-masing kompetensi guru dibagi lagi menjadi beberapa indikator dan diberi skor oleh asesor antara 0 sampai 2. Skor 0 diberikan asesor jika masing-masing indikator tidak dilaksanakan sama sekali. Skor 1 diberikan jika masing-masing indikator terpenuhi sebagian, dan jika seluruhnya atau sebagian besar indikator terpenuhi diberi skor 2.
  
*Penulis, Kepala SMAN 1 Bati-bati, Trainer PKG Kalsel




[Continue reading...]

Pages

Ads 468x60px

 
Copyright © . Pendidikan Bahasa dan Sastra - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger