Selasa, 21 Agustus 2012

MEMAHAMI ISI DAN TEMA PUISI


Tema dalam puisi adalah gagasan utama yang dikemukakan penyair dalam puisi yang diciptakannya. Setiap puisi pasti memiliki tema tertentu yang mungkin berbeda dan mungkin pula sama dengan puisi lainnya.
Agar dapat menentukan tema puisi, kita harus memahami isi puisi tersebut terlebih dahulu karena tema pada puisi pada dasarnya merupakan persoalan pokok yang dibicarakan dalam sebuah puisi. Agar dapat memahami isi puisi, langkah yang dapat kita lakukan adalah dengan memahami kata-kata yang digunakan pada puisi tersebut, baik makna denotatif, konotatif, dan perlambangan yang digunakan sebagaimana telah dibahas sebelumnya. 
Agar lebih jelas, mari kita perhatikan kembali puisi yang berjudul “Jakarta” karya Husni Djamaludin di atas. Kita mulai dengan memahami bait pertama. Kata berjubel dan penumpang pada larik kedua puisi tersebut adalah kata bermakna denotasi karena memiliki makna yang sebenarnya. Siapa yang berjubel dalam larik tersebut? Yang berjubel adalah penumpang dalam biskota. Namun, kalau dikaitkan dengan larik sebelumnya, yaitu kata Jakarta, maka yang berjubel itu bukan hanya penumpang biskota, tetapi lebih luas, yaitu penduduk kota Jakarta. Pada bait pertama puisi ini juga terdapat perlambangan, yaitu Jakarta dilambangkan dengan biskota untuk mendeskripsikan kota Jakarta sebagai kota yang padat.
Pada bait kedua, terdapat dua perlambangan untuk kota Jakarta. Pertama, kota Jakarta dilambangkan dengan bos besar dan yang kedua dilambangkan dengan babu. Kedua perbandingan ini bertentangan dan kontras. Hal ini tampak dari kata-kata bermakna denotatif yang mengikutinya. Makna kontras tersebut tampak dari pernyataan penyair dengan kata-kata bermakna denotatif: Bos besar memiliki gaji atau menghasilan empat milyar sebulan, sementara babu memiliki penghasilan empat puluh ribu, itu pun sudah dianggap tinggi. Ini menunjukkan bahwa Jakarta dihuni oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari yang berpenghasilan tinggi (kaya) sampai yang berpenghasilan sangat rendah (miskin).
Hampir sama dengan bait kedua, bait ketiga juga berisi gambaran tentang kontrasnya keadaan di Jakarta dengan menggunakan perlambangan dan kata-kata bermakna denotasi dan konotasi. Rumah-rumah kumuh yang terdapat pada larik pertama dikontraskan (dipertentangkan) dengan gedung-gedung pencakar langit yang terdapat pada larik kedua. Rumah-rumah kumuh merupakan simbol dari kemiskinan sementara gedung-gedung pencakar langit identik dengan kalangan berduit. Dengan demikian, bait ketiga ini juga menggambarkan kontrasnya penghuni Kota Jakarta.
Namun, kalau kita perhatikan lebih mendalam larik ketiga dan keempat pada bait ketiga ini, tampak ada lanjutan dari sekedar gambaran tentang penghuni Kota Jakarta, yaitu adanya pernyataan dengan menggunakan istilah mencakar wajah kemiskinan. Pernyataan ini menunjukkan lemahnya posisi kaum miskin atau rakyat jelata ketika berhadapan dengan kalangan berduit (kaum kuat). Siapa yang kuat dialah yang menang. Itulah kehidupan di Jakarta.
Pada bait keempat yang terdiri atas empat larik seperti berikut ini tampak ada yang berbeda:
Jakarta adalah komputer
yang mengutak-atik angka-angka nasib
dan memutar
nasib angka-angka
Perbedaan pada bait keempat ini tampak dari tidak adanya kegiatan membandingkan sesuatu yang kontras seperti pada larik sebelumnya. Pada bait ini, penyair hanya membandingkan Jakarta dengan komputer. Mengapa komputer? Pada larik kedua sampai keempat penyair menyatakan, komputer sebagai alat untuk mengutak-atik dan memutar angka dan nasib angka. Komputer adalah simbol dari Jakarta, sementara angka merupakan simbol dari masyarakat dan nasib penghuni Kota Jakarta. Ini menunjukkan kalau Jakarta memiliki kekuatan yang mampu mengutak-atik dan memutar masyarakatnya. Jika dalam keadaan beruntung, masyarakat bisa meningkat dengan drastis dan dapat pula terjungkir balik dengan keadaan sebelumnya. Inilah nasib masyarakat Kota Jakarta.
Larik terakhir (kelima) puisi di atas diawali dengan suatu pernyataan  membandingkan secara langsung (metafora) Kota Jakarta dengan Ciliwung (Kali Ciliwung). Kali yang terletak di tengah-tengah Kota Jakarta dianggap oleh penyair sebagai sungai yang mampu menampung dan mengalirkan usaha keras (dilambangkan dengan keringat), harapan (dilambangkan dengan mimpi), dan penderitaan (dilambangkan dengan air mata) penduduknya. Dari bait ini kita dapat memahami pernyataan penyair bahwa Jakarta merupakan tumpuan usaha keras (perjuangan), harapan, dan penderitaan masyarakat penduduknya.
Dari makna yang berhasil kita peroleh dari kegiatan memahami makna dan perlambangan dalam lima bait di atas puisi yang berjudul “Jakarta” di atas Husni Djamaludin mengemukakan bahwa Jakarta adalah kota yang padat yang dihuni oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari kalangan atas sampai kalangan bawah, mulai dari masyarakat kaya sampai masyarakat miskin. Kehidupan di Jakarta adalah kehidupan yang keras. Siapa yang kuat dialah yang menang. Jakarta adalah tempat berjuang untuk mewujudkan harapan dan sekaligus sesuatu yang menakutkan karena merupakan tumpukan air mata masyarakat dari kalangan bawah.
Berdasarkan simpulan makna di atas, kita dapat menentukan tema puisi “Jakarta” karya Husni Djamaludin. Puisi di atas adalah puisi bertemakan sosial yang membahas tentang kehidupan masyarakat di Kota Jakarta yang padat dan keras.  

Latihan
Pahami isi puisi melalui makna kata (denotatif dan konotatif) serta simbol yang digunakan dalam puisi berikut ini. Kemukakan simpulan isi dan tema puisi dalam lembar kerja yang tersedia di bawahnya.

ZIKIR
Karya Maisyarah (MAN 2 Rantau)

Seiring denyut nadi dan detak jantung
Kusebut asma-Mu yang agung
Tepekur dalam sepi
Zikir pada-Mu Ilahi Robbi

Zikir yang dalam
Memecah sunyinya malam
Berserah diri pada-Nya
Sang pencipta alam

Aku menangis sendiri
Menyadari kealpaan diri
Memanggil nama-Mu ya Robbi
Yang terpatri di hati sanubari setiap insani

Simpulan isi puisi
……………………………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………………………

Tema puisi
……………………………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………………………

Sumber:
Pelajaran Bahasa Indonesia 1a
Karya Drs. H. M. Yusransyah, M. Pd.
Penerbit Grafika Wangi Kalimantan

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

Ads 468x60px

 
Copyright © . Pendidikan Bahasa dan Sastra - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger