Thursday, 25 August 2011

MEMPARAFRASEKAN PUISI


Salah satu cara untuk menganalisis puisi agar lebih dipahami oleh pembaca atau pendengar adalah melalui parafrase. Parafrase adalah proses menceritakan kembali isi puisi dengan penggunaan bahasa sendiri dengan cara menambah, mengurangi, atau mengganti kata-kata, frasa tertentu agar lebih mudah dipahami oleh pembaca atau pendengarnya.
Dengan kata lain, parafrase puisi dapat diartikan sebagai upaya untuk mengubah bentuk puisi menjadi bentuk lain seperti prosa dengan menambahkan/ menyelipkan, mengurangi, atau mengganti kata-kata atau frasa dalam puisi dengan kata-kata atau frasa tertentu agar lebih mudah dipahami. Teknik parafrase ini hanya diperlukan bagi puisi-puisi yang amat minim atau padat kata-katanya. Bila suatu puisi telah tersusun dalam kata-kata yang mudah dipahami, maka tidak diperlukan lagi membuat parafrase. Perhatikan puisi Chairil Anwar berikut ini!

               HAMPA

Kepada Sri

Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti. Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

Dengan teknik parafrase ini kita dapat menambah, mengurangi, memindah, mengurangi beberapa kata yang cocok untuk puisi di atas agar lebih mudah dipahami. Kata atau frasa yang ditambahkan diletakkan dalam tanda kurung, sehingga menjadi bentuk berikut ini.

               HAMPA

Kepada Sri

(keadaan amat) Sepi di luar (sana).
(Keadaan) Sepi (itu) menekan-(dan) mendesak.
Lurus kaku pohon(-pohon)an (di sana).
(pepohonan itu) Tak bergerak
Sampai ke puncak (nya). Sepi (itu) memagut(aku),
Tak satu kuasa (pun dapat) melepas (dan me)renggut(nya)
(dariku)
Segala(nya) (hanya) menanti. Menanti. (dan) Menanti (lagi).
(menanti dalam) Sepi.
(di) Tambah (lagi dengan keadaan saat) ini (,) menanti jadi
mencekik (malah)
Memberat(kan) (dan) mencekung (kan) punda (kku)
Sampai binasa segala(galanya). (itu pun) Belum apa-apa
(bahkan) Udara (pun) (telah) bertuba. Setan (pun) bertempik
(sorak)
Ini (,) (peraan) sepi (ini) terus (saja) ada.
Dan (aku masih tetap) menanti.

Latihan (individu)
Parafrasekan  puisi yang berjudul “Perempuan-perempuan Perkasa” karya Hartoyo Andangjaya pada pelajaran 1.1 di atas menjadi bentuk prosa yang mudah dipahami.

Sumber:
Pelajaran Bahasa Indonesia SMA/MA 1a
Karya Drs. H. M. Yusransyah, M. Pd.
Penerbit Grafika Wangi Kalimantan

0 comments:

Post a Comment

 
Copyright © . Pendidikan Bahasa dan Sastra - Posts · Comments
Desain Theme Template by Metamorfosa27 · Powered by Blogger