Wednesday, 11 July 2012

MENGGUNAKAN KATA ULANG DALAM PARAGRAF NARATIF


Perhatikan penggunaan kata yang dicetak miring pada paragraf naratif berikut ini!
Keluarga kami tinggal di lingkungan yang terdiri atas berbagai suku bangsa. Rumah-rumah warga yang tinggal di lingkungan kami diberi cat warna-warni. Anak-anak suka bermain-main di tempat bermain yang disediakan di tengah bangunan dan pepohonan milik rumah warga. Buku-buku dan surat-surat kabar yang terdapat di perpustakaan desa menjadi bacaan rutin muda-mudi di desa ini. Tolong-menolong merupakan kebiasaan warga yang selalu terpelihara di desa kami.
Kata yang dicetak miring pada paragraf naratif di atas adalah kata ulang (reduplikasi). Jika dikelompokkan menurut jenisnya, terdapat empat kelompok kata ulang sebagai berikut:
(1) anak-anak                        
     buku-buku
(2) warna-warni
     muda-mudi
(3) rumah-rumah warga  
     surat-surat kabar         
     pepohonan                   
(4) bermain-main
     tolong-menolong
Sesuai bentuknya, kata ulang kelompok pertama dibentuk dengan cara mengulang bentuk dasarnya secara utuh sehingga disebut dengan pengulangan utuh. Kata ulang kelompok kedua dibentuk dengan mengulang bentuk dasarnya namun salah satu fonemnya mengalami perubahan bunyi sehingga disebut pengulangan salin suara. Kata ulang kelompok ketiga dibentuk dengan mengulang sebagian bentuk dasarnya sehingga disebut pengulangan sebagian. Kelompok kata ulang keempat dibentuk dengan mengulang bentuk dasarnya dengan disertai afiks sehingga disebut pengulangan yang disertai pengafiksan.
Kata ulang ditulis dengan tanda hubung di antara kedua kata yang diulang. Kata ulang dengan pengulangan sebagian kata (tidak mencapai satu morfem atau satu kata) seperti pepohonan, lelaki  tidak perlu diberi tanda hubung.
Frasa dan kata majemuk yang terdiri dua kata atau lebih jika diulang menjadi dua bentuk kata ulang. Frasa atau kata majemuk yang salah satu unsurnya adalah unsur inti seperti rumah pada frasa rumah warga, maka yang diulang cukup unsur intinya sehingga menjadi rumah-rumah warga. Jika frasa atau kata majemuk yang terdiri atas dua kata atau lebih yang keduanya merupakan unsur inti dan menyatu seperti suami istri, maka pengulangannya harus mengenai seluruh kata yang membentuk frasa atau kata majemuk tersebut, sehingga menjadi suami istri-suami istri.
Kata-kata seperti rama-rama dan cumi-cumi bukanlah kata ulang karena tidak ada bentuk dasar yang diulang. Kata rama-rama bukan dibentuk dari pengulangan bentuk dasar rama. Meskipun ada kata Rama (nama orang) namun kata Rama tidak memiliki hubungan makna dengan rama-rama. Demikian pula dengan kata cumi-cumi bukan berasal dari bentuk dasar cumi sebab kata cumi tidak ada dalam bahasa Indonesia.
Pengulangan bentuk dasar menjadi kata ulang menimbulkan makna yang berbeda-beda. Makna yang timbul akibat pengulangan bentuk dasarnya dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis.
a.       menyatakan banyak tak tentu
contoh: gunung-gunung, daerah-daerah, gerak-gerik, rumah-rumah, pepohonan
b. menyatakan sangat
contoh: rajin-rajin, besar-besar, kuat-kuat, manis-manis
c. menyatakan saling berbalasan atau pekerjaan dilakukan oleh dua pihak (resiprok)
contoh: kunjung-mengunjungi, tuduh-menuduh, tolong-menolong
d. menyatakan paling atau intensitas
contoh: sebaik-baiknya, setinggi-tingginya, sebanyak-banyaknya
e. menyatakan tiruan atau menyerupai
contoh: orang-orangan,  siku-siku, rumah-rumahan
f.  menyatakan bersenang-senang atau santai
contoh: duduk-duduk, minum-minum, membaca-baca, tidur-tiduran, berjalan-jalan
g. menyatakan dikenai sifat atau agak
contoh: kebarat-baratan, kemalu-maluan, kehijau-hijauan
h. menyatakan himpunan pada kata bilangan
contoh: dua-dua, lima-lima, banyak-banyak
i.  menyatakan agak (melemahkan arti)
contoh: pening-pening. sakit-sakit, malu-malu
j.  menyatakan beberapa
contoh: bertahun-tahun, berhari-hari
k. menyatakan terus-menerus
contoh: bertanya-tanya, mencari-cari
l.  menyatakan waktu contoh: pagi-pagi sudah mengantuk, datang-datang marah
m.      menyatakan makin atau bertambah
contoh: lama-lama ia pingsan, meluap-luap amarahnya
n. menyatakan berusaha atau penyebab
contoh: menyabar-nyabarkan diri. menguat-nguatkan hati.- menahan-nahan amarah

Latihan (individu)
Buatlah sebuah paragraf naratif yang di dalamnya terdapat keempat jenis kata ulang minimal dua buah pada setiap jenis kata ulang. Selanjutnya tentukan cara pembentukannya dan makna masing-masing kata ulang tersebut!

Sumber:
Pelajaran Bahasa Indonesia 1a
Karya Drs. H. M. Yusransyah, M. Pd.
Penerbit Grafika Wangi Kalimantan

0 comments:

Post a Comment

 
Desain Theme Template by Monolog26 · Powered by Blogger