Friday, 17 August 2012

MENGIDENTIFIKASI PENGGUNAAN MAJAS DALAM PUISI


Unsur-unsur yang membentuk puisi terdiri bermacam unsur, salah satunya adalah majas atau gaya bahasa. Majas dalam penciptaan puisi diartikan sebagai cara menyatakan suatu maksud dengan cara menyamakan, membandingkan, menyindir, menegaskan, mempertentangkan dengan sesuatu yang lain yang memiliki hubungan tertentu. Sebagai contoh, untuk melukiskan keadaan seseorang yang sangat tinggi dinyatakan dengan pohon atau tiang listrik, cita-cita yang tinggi dinyatakan sebagai menara atau awan, dan sebagainya.
Majas atau figurative language adalah bahasa kias, bahasa yang digunakan untuk menciptakan efek tertentu. Majas merupakan bentuk retoris yang pengunaannya antara lain untuk menimbulkan kesan imajinatif bagi penyimak atau pembacanya.
Dalam puisi terdapat beberapa macam penggunaan majas, di antaranya seperti yang akan diuraikan berikut ini.
a.    asosiasi
       Asosiasi adalah gaya bahasa perbandingan dengan kata pembanding, yaitu membendingkan sesuatu yang dimaksudkan oleh penyair dengan sesuatu yang lain dengan menggunakan kata pembanding: seperti, laksana, bak, ibarat, bagai, seumpama, bagaikan, se- dan sebagainya.
       Contoh:
       -   Anak itu cantik seperti rembulan.
       -   Wajahnya bersih sebersih kertas putih.
b.    metafora
       Metapora adalah gaya bahasa perbandingan langsung, membandingkan sesuatu yang dimaksudkan oleh penyair dengan sesuatu yang lain secara langsung, tanpa menggunakan kata pembanding.
       Contoh:
       -   Anak itu buaya darat (suka mempermainkan perempuan)
c.     personifikasi
       Personifikasi adalah gaya bahasa kiasan yang digunakan untuk mengibaratkan benda-benda mati atau tidak bernyawa menjadi seolah-olah bernyawa atau memiliki sifat kemanusiaan.
       Contoh:
       -   Angin meraung-raung di tengah malam yang gelap dan sunyi itu.
       -   Matahari itu baru saja kembali ke peraduannya.
d.    dipersonifikasi
       Dipersonifikasi adalah gaya bahasa kiasan yang digunakan untuk mengibaratkan benda-benda hidup atau bernyawa seolah-olah benda mati atau tidak bernyawa.
       Contoh:
       -   Mereka duduk mematung setelah menyaksikan pengumuman itu.
e.    alegori
       Alegori adalah gaya bahasa yang menggunakan bahasa kiasan secara langsung dan singkat yang biasanya bersifat mendidik (terutama moral).
       Contoh:
       -   Pemuda adalah bunga bangsa apabila kita sirami, maka harumnya akan semerbak.
f.     hiperbola
       Hiperbola adalah gaya bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu secara berlebihan.
       Contoh:
       -   Suaranya menggelegar membelah angkasa.
       -   Mengalirlah darah korban dari tempat kecelakaan itu.
g.    litotes
       Litotes adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyatakan sesuatu dengan menggunakan kata yang nilainya kurang dari keadaan yang sesungguhnya dengan maksud untuk merendahkan diri.
       Contoh:
       -   Kalau Tuan sudi silakan mampir di gubuk kami. (rumah)
h.    klimaks
       Klimaks adalah gaya bahasa yang mengungkapkan suatu maksud dengan urutan meningkat (makin lama makin tinggi, makin banyak, makin bagus, makin besar dari keadaan semula)
       Contoh:
       -   Kalau untukmu, jangankan sepuluh, seratus, seribu, bahkan sejuta pun akan kuberi.
       -  
            sekarang masih harus  setia
            mendengarkan suara, apa pun juga
                        sampai tuli; masih harus memandang
            beribu warna, sampai buta; masih harus
            menjumlah serta mengurangi sederet panjang angka-angka
           
                                                                        (Sapardi Djoko Damono, Dukamu Abadi)
i.      antiklimaks
       Antiklimaks adalah gaya bahasa yang mengungkapkan suatu maksud dengan urutan menurun (makin lama makin rendah, makin kecil, makin jelek, makin sedikit dari keadaan semula)
       Contoh:
       -   Jangankan mobil, sepeda motor, bahkan sepeda pun saya tidak punya.
j.      paradoks
       Paradoks adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang seolah-olah bertentangan karena perbedaan objeknya.
       Contoh:
       -   Musuh pada masa lalu sering menjadi kawan yang akrab pada masa kini.
       -   Ia mati kelaparan di tengah-tengah kekayaan yang melimpah.
k.    ironi
       Ironi adalah gaya bahasa yang digunakan penyair untuk mengungkapkan suatu maksud dengan kata-kata yang berbeda dari apa yang terkandung dalam rangkaian kata-kata yang digunakan.
       Contoh:
       -   Andalah orang yang paling cantik di kelas ini. (maksudnya paling jelek)
l.      antitesis
       Antitesis adalah gaya bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan dalam satu rangkaian kata.
       Contoh:
       -   Kaya miskin, tua muda, besar kecil semua menyaksikan film “Dalam Mehrab Cinta.”
m.   anakronisme
       Anakronisme adalah gaya bahasa yang di dalamnya terdapat pernyataan yang tidak sesuai dengan keadaan pada saat itu.
       Contoh:
       -   Kemarin saya menyaksikan sendiri dinosaurus mendatangi kami.
       -   Patih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit tersenyum menyaksikan penobatan dirinya yang disiarkan oleh Metrotv.
n.    metonomia
       Metonomia adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyatakan sesuatu dengan menyebutkan secara langsung nama atau merknya.
       Contoh:
       -   Hari ini aku ke sekolah naik Honda (maksudnya sepeda motor merk Honda)
o.    pars prototo
       Pars protototo adalah gaya bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang luas (keseluruhan) dengan menyebutkan hanya sebagiannya.
       Contoh:
       -   Setiap kepala dikenakan sumbangan sebesar Rp 1.000. (maksudnya orang, bukan hanya kepala)
       -   Ia membeli tiga ekor ayam. (maksudnya ayam, bukan hanya ekornya)
p.    totem proparte
       Totem proparte adalah gaya bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang sempit (hanya sebagian) dengan menyebutkan sesuatu yang luas (keseluruhan)
       Contoh:
       -   Kemarin SMA Bati-bati menjadi Juara Cerdas Cermat Imtaq. (yang jadi juara hanya salah satu kelompok perserta cerdas cermat dari SMA Bati-bati)
q.    eufenisme
       Eufenisme adalah gaya bahasa yang digunakan penyair untuk mengungkapkan sesuatu dengan menggunakan ungkapan-ungkapan yang halus untuk menggantikan acuan yang mungkin dirasakan agak kasar atau dapat menghina, atau menyinggung orang lain.
       Contoh:
       -   Permisi Pak, saya mau ke belakang. (maksudnya toelit)
r.     alusio
       Alusio adalah gaya bahasa yang digunakan penyair untuk mengungkapkan sesuatu dengan menggunakan peribahasa, ungkapan, kiasan yang sudah umum (lazim) digunakan di masyarakat.
       Contoh:
       -   Anak itu tampaknya seperti air tenang menghanyutkan.
       -   Orang itu tua-tua keladi, makin tua makin menjadi.
s.     Paralelisme
       Paralelisme adalah gaya bahasa yang digunakan penyair dengan cara mensejajarkan kata-kata atau frasa yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatik yang sama pula.
       Contoh:
       Segala kupinta tiada kuberi
       Segala kutanya tiada kau sahuti
       ….
       Tertahan aku di muka dewala
       Tertegun aku di jalan buntu
t.     repetisi
       Repetisi adalah gaya bahasa pengulangan bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk menyatakan suatu maksud.
       Contoh:
       aku bawakan bunga padamu
                                                                        tapi kau bilang masih
       aku bawakan resahku padamu
                                                                        tapi kau bilang hanya
       …. 
u.    asindenton
       Asindenton adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyatakan sesuatu dengan tidak banyak menggunakan kata penghubung. Untuk menghubungkan bagian-bagian pernyataan itu digunakan tanda koma (,) atau titik koma (;) atau tanda baca yang sejenis sebagai pengganti kata penghubung.
       Contoh:
      
       Sekarang masih harus setia
       mendengar suara, apa pun juga,
       sampai tuli; masih harus memandang
       beribu warna, sampai buta; masih harus
       menjumlah serta mengurangi sederet panjang angka-angka
      
                                                                        (Sapardi Djoko Damono, Dukamu Abadi)
v.    polisindenton
       Polisindenton merupakan kebalikan dari asindenton, yaitu gaya bahasa yang digunakan untuk menyatakan sesuatu dengan menggunakan banyak kata penghubung .
       Contoh:
      
       Apakah akan kita jumpai wajah-wajah bengis
       atau tulang belulang, atau sia-sia saja jasad mereka
       di sini?
      
                                                                        (Sapardi Djoko Damono, Dukamu Abadi)


Latihan (individu)
Berdasarkan uraian di atas, analisis gaya bahasa apa saja yang terdapat dalam puisi karya Husni Djamaludin berikut ini. Agar mudah untuk mengerjakan latihan yang diberikan, puisi tersebut diberi nomor pada setiap lariknya. Kerjakan pada kolom yang tersedia di bawahnya.
JAKARTA
Husni Djamaludin
Jakarta adalah biskota
yang berjubel penumpangnya
bergerak antara kemacetan jalan raya
dan terobosan-terobosan tak terduga

Jakarta adalah bos besar
gajinya sebulan empat milyar
adapun yang babu
tinggi sudah empat puluh ribu

Jakarta adalah rumah-rumah kumuh
yang mengusik tata keindahan gedung-gedung pencakar langit
Jakarta adalah gedung-gedung pencakar langit
yang mencakar wajah-wajah kemiskinan rumah-rumah kumuh

Jakarta adalah komputer
yang mengutak-atik angka-angka nasib
dan memutar
nasib angka-angka

Jakarta adalah ciliwung
sungai keringat dan mimpi rakyatnya
disitu pula mengalir
air mata ibukota
                                    (Jakarta, 22 Juni 1990)

Nama Majas
Kutipan larik yang menunjukkan majas tersebut
alegori

metafora

hiperbola

personifikasi

1 comments:

 
Desain Theme Template by Monolog26 · Powered by Blogger