Saturday, 10 March 2012

MENYAMPAIKAN PENGALAMAN SECARA LISAN(LUCU, MENYENANGKAN, MENGHARUKAN) DENGAN PENGGUNAAN KATA DAN EKSPRESI YANG TEPAT


Perhatikan kutipan yang berisi pengalaman pribadi yang diceritakan secara lisan berikut ini.
Mendidik Anjal dengan Akses Pekerjaan
Teman-teman yang baik, perkenalkan nama saya adalah Priska Anggraeni. Pada kesempatan ini, saya akan menceritakan pengalaman saya dalam melakukan kegiatan pendidikan untuk anak jalanan. Pengalaman tersebut saya lakukan ketika bergabung dengan sebuah yayasan yang mengadopsi anak jalanan.
Mungkin, bagi yang belum pernah berkecimpung dengan dunia anak jalanan akan merasa asing dengan mereka. Memang tidak mudah ngedidik keterampilan anak-anak jalanan (anjal) yang masih haus belaian kasih sayang orang tuanya. Berbagai cara pun dilakukan yayasan-yayasan yang mengasuh anak-anak tersebut, termasuk yayasan tempat saya mencurahkan tenaga dan pikiran untuk membantu anak jalanan.
Adapun yayasan tempat saya mengabdikan diri bernama Yayasan Widya Dharma. Bersama yayasan tersebut, kami menangani anak terlantar dengan mendekatkan mereka pada akses pekerjaan. Prinsip dasarnya, kalau anak telantar diberi kerjaan yang lebih nyata, mereka diharapkan tidak akan minta-minta lagi di jalanan.
Bersama Koordinator Pendamping Anak Jalanan Yayasan Widya Dharma, kami tawarkan beragam program untuk membantu anak jalanan. Di antaranya, keterampilan menyablon hingga kemampuan bekerja di bengkel. Kami pun tidak jarang melakukan kerja sama dengan lembaga lain untuk memberikan pendidikan bagi anak jalanan tersebut.
Untuk menjalankan program tersebut, yayasan tidak perlu mengasramakan 130 anak-anak telantar yang ditangani. Dalam hal ini, kami bertindak sebagai pendamping yang mendatangi dua tempat anak-anak terlantar binaan kami, yakni di kawasan Rungkut dan Putat Jaya, Surabaya. Di sana, anak jalanan tersebut diajak untuk terampil dengan diberikan pelatihan-pelatihan. Salah satu tujuan pelatihan-pelatihan tersebut ialah untuk menumbuhkan kreatif anak jalanan.
Perlahan, program tersebut membuahkan hasil. Di Banyu Urip, saat ini telah berdiri tiga usaha sablon yang dikerjakan anak-anak tersebut. Di Dukuh Pakis juga berdiri bisnis serupa. Sementara, di Putat Jaya saat ini berdiri tiga unit usaha perbengkelan. Memang hasilnya tidak terlalu besar, tetapi mereka kini telah memiliki aktivitas bermanfaat.
Selain itu, kami juga berkoordinasi dengan lembaga lain, seperti Sanggar Alang-Alang milik Kak Didit Hape. Lembaga yang telah sembilan tahun berdiri itu tawarkan pendidikan etika dan estetika untuk anak-anak jalanan yang bergabung. Mereka boleh belajar dengan gratis. Asal, mereka sopan dan tidak berkata-kata jorok, itulah SPP belajar di sanggar itu.
Kak Didit membagi program pendidikannya menjadi tiga, yakni pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan anak usia sekolah (PAUS), dan pendidikan anak usia remaja (PAUR). Kalau diistilahkan, ini semacam TK anak miskin. Kami dapat memperoleh belajar yang banyak dari sanggar tersebut.
Kami pun pernah bekerja sama dengan Panti Asuhan Bhakti Luhur. Panti asuhan ini punya cara lain untuk mengentaskan anak-anak binaannya. Mereka menyediakan 60 pengasuh untuk anak didiknya. Mereka mengalami macam-macam kebutuhan. Mulai buta sampai lemah mental.
Adapun di tempat lain, yaitu di Penitipan Ibu dan Anak Matahari Terbit, anak-anak asuh diberi bekal pengetahuan dasar tentang hidup. Mulai rutinitas seperti mandi atau makan, hingga bekal pengetahuan tentang moral, tata krama, dan kemandirian dilatih di sana. Memang, hasilnya lumayan terasa. Mereka sudah bisa mengatur pola kehidupan sendiri.
Bagi saya, kegiatan yang saya alami tidak lain sebagai bahan motivasi bagi teman-teman yang ingin menyisihkan waktunya untuk mengabdikan diri bagi dunia pendidikan anak jalanan. Pengalaman yang saya ceritakan ini tiada lain juga sebagai upaya menggugah kita bahwa masih banyak anak di negeri ini yang belum mendapatkan pendidikan yang layak untuk masa depan. Demikianlah pengalaman ini saya sampaikan. Semoga bermanfaat bagi teman-teman.
dikutip dengan perubahan seperlunya
dari buku Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia
oleh Adi Abdul Somad, dkk.

Sesuai judulnya, kutipan di atas berisi pengalaman pribadi penulis ketika bergabung dengan suatu yayasan untuk melaksanakan kegiatan sosial dalam rangka memberdayakan anak jalanan.
Kata-kata yang digunakan pada kutipan di atas, sebagian besar terdiri atas kata-kata yang digunakan dengan tepat sesuai dengan makna atau bentuk kata tersebut. Namun jika diperhatikan lebih jauh, terdapat beberapa kata yang tidak tepat penggunaannya jika ditinjau dari segi makna dan bentuknya. Kata-kata bergaris bawah pada paragraf ke-7, ke-8, dan ke-9 merupakan contoh kata-kata yang tidak tepat penggunaannya. Mengapa demikian?
Kata tawarkan pada paragraf ke-7, belajar pada paragraf ke-8, punya, macam-macam pada paragraf ke-9 merupakan kata yang tidak tepat penggunaannya dari segi bentuknya. Kata tawarkan pada paragraf ke-7 tidak tepat karena seharusnya berawalan meng- sehingga menjadi menawarkan. Kata belajar pada paragraf ke-8 tidak tepat karena seharusnya berafiks peng-an sehingga menjadi pelajaran. Kata punya dan macam-macam pada paragraf ke-9 tidak tepat karena seharusnya berafiks meng- dan ber- sehingga menjadi mempunyai dan bermacam-macam.
Kata anak miskin pada paragraf ke-8 dan  kebutuhan pada paragraf ke-9 tidak tepat dari segi maknanya. Kata anak miskin hanya bermakna tunggal, namun pernyataan pada paragraf ke-8 mengacu pada makna jamak, sehingga kata yang tepat digunakan adalah anak-anak miskin. Kata kebutuhan pada paragraf tersebut tidak tepat digunakan karena tidak sesuai dengan makna pernyataan pada paragraf ke-9. Kata yang tepat digunakan sebagai pengganti kata tersebut adalah kelainan fisik.
Selain penggunaan kata yang harus tepat, jika pengalaman pribadi tersebut harus dibacakan di depan orang banyak seperti di kelas, maka Anda harus membacakannya dengan ekspresi yang tepat sesuai dengan isi pengalaman pribadi tersebut. Jika pengalaman tersebut berisi hal-hal yang menyenangkan, maka ekspresi Anda ketika membacakan pengalaman pribadi tersebut harus ceria. Jika pengalaman tersebut berisi hal-hal yang menyedihkan, maka ekspresi Anda ketika membacakan pengalaman pribadi tersebut harus sendu, bersahaja, sedih, namun tidak berlebihan.

Latihan
A. Analisis kata-kata lain yang tidak tepat penggunaannya pada teks di atas, baik dari segi bentuk, maupun dari segi makna. Tentukan pula kata pengganti yang tepat untuk menggantikan kata-kata yang tidak tepat tersebut! (kelompok)
B.  Buat sebuah naskah yang berisi pengalaman pribadi, baik yang lucu, menyenangkan, mengharukan, dsb. dengan penggunaan kata yang tepat. (individu)
C.   Bacakan pengalaman pribadi yang Anda buat dengan ekspresi yang tepat pula! (individu)

Sumber:
Pelajaran Bahasa Indonesia 1a
Karya: Drs. H. M. Yusransyah, M. Pd.
Penerbit: Grafika Wangi Kalimantan

0 comments:

Post a Comment

 
Desain Theme Template by Monolog26 · Powered by Blogger