Saturday, 15 September 2012

KESEPADANAN DAN KEPARALELAN DALAM KALIMAT EFEKTIF


Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili gagasan pembicara atau penulis sehingga pembaca atau pendengar dapat menerima maksud/arti serta tujuannya seperti yang dimaksud penulis /pembicara.
Kalimat efektif memiliki beberapa ciri antara lain kesepadanan dan keparalelan. Ciri lainnya akan dibicarakan pada pembelajaran berikutnya.

Kesepadanan
Yang dimaksud dengan kesepadanan adalah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat ini diperlihatkan oleh adanya kesatuan gagasan yang kompak dan padu. Kesepadanan dalam kalimat dapat diwujudkan dengan adanya unsur-unsur kalimat yang harus ada seperti subjek dan predikat dan dapat berfungsi dengan baik.
Ada beberapa hal yang menyebabkan unsur-unsur kalimat tidak dapat berfungsi dengan baik. Pertama, subjek yang tidak jelas akibat adanya preposisi yang berada di depan subjek kalimat yang memiliki predikat berafiks meng-. Sebagai contoh, perhatikan kalimat berikut!
Dalam musyawarah itu menghasilkan lima keputusan.
Kalimat di atas adalah kalimat tidak efektif. Penyebab ketidakefektifan kalimat tersebut adalah tidak jelasnya subjek kalimat. Jika kita menggunakan pertanyaan untuk menguji subjek, “Apa atau siapa yang menghasilkan lima keputusan?” maka jawabnya adalah dalam musyawarah. Dengan demikian, subjek kalimat tersebut adalah dalam musyawarah. Subjek yang benar adalah musyawarah, sebab musyawarahlah yang menghasilkan lima keputusan, bukan dalam musayawarah. Dengan adanya preposisi dalam di depan kata musyawarah, maka subjek kalimat tersebut (musyawarah) menjadi tidak jelas.
Agar menjadi efektif, kalimat di atas dapat diperbaiki dengan cara menghilangkan preposisi dalam sehingga subjek kalimat menjadi berfungsi dalam mendukung satu kesatuan gagasan. Kalimat efektifnya menjadi:
Musyawarah itu menghasilkan lima keputusan.
Contoh lain, perhatikan pula kalimat di bawah ini!
Di sekolah kami mengadakan lomba baca puisi.
Sama seperti kalimat di atas, kalimat tersebut juga tergolong tidak efektif karena subjeknya yang tidakjelas atau tidak berfungsi akibat adanya preposisi di. Jika kita menggunakan pertanyaan: “Apa atau siapa yang mengadakan lomba baca puisi?”, maka subjek kalimat tersebut adalah di sekolah kami, seharusnya sekolah kami. Agar menjadi kalimat efektif, kita dapat memperbaikinya melalui dua cara. Cara pertama adalah dengan cara menghilangkan preposisi di dan yang kedua, dengan cara mengubah predikat kalimat yang semula berafiks meng- menjadi berafiks di- seperti dua kalimat berikut ini.
Sekolah kami mengadakan lomba baca puisi.
Di sekolah kami diadakan lomba baca puisi.
Kedua, subjek ganda pada kalimat tunggal. Kalimat yang demikian dapat mengganggu keberadaan dan fungsi subjek. Perhatikan contoh berikut!
Penyusunan laporan itu saya dibantu oleh para dosen.
Subjek pada kalimat tunggal di atas ganda (lebih dari satu), yaitu penyusunan laporan dan saya. Agar menjadi efektif, kalimat tunggal di atas perlu diubah menjadi kalimat berikut ini.
Dalam penyusunan laporan itu saya dibantu oleh para dosen.
Kehadiran preposisi dalam pada kalimat di atas menyebabkan subjek pertama tidak berfungsi sehingga subjeknya hanya satu, yaitu saya.
Ketiga, pengulangan unsur-unsur kalimat seperti subjek, predikat, objek, pelengkap, atau keterangan yang terdiri atas kata yang sama dalam kalimat. Pengulangan unsur kalimat yang sama ini dapat mengganggu kesatuan gagasan yang terdapat dalam kalimat tersebut. Hal ini tampak pada kalimat berikut!
Iswandi berangkat ke sekolah, kemudian Iswandi berangkat ke perpustakaan.
Kalimat di atas tidak efektif karena subjek dan predikat ganda yang terdiri atas kata yang sama, yaitu Iswandi (subjek) dan berangkat (predikat). Agar menjadi efektif, kalimat di atas dapat diperbaiki menjadi:
Iswandi berangkat ke sekolah, kemudian ke perpustakaan.
Keempat, predikat kalimat yang tidak berfungsi akibat penggunaan kata yang di antara subjek dan predikat. Dengan adanya kata yang tersebut, maka bagian kalimat yang seharusnya berfungsi sebagai predikat menjadi tidak berfungsi dan berpindah menjadi bagian dari subjek. Perhatikan kalimat berikut ini!
Rumah besar yang terbakar.
Kata bergaris bawah pada kalimat di atas seharusnya berfungsi sebagai predikat. Karena didahului kata yang, maka predikatnya menjadi tidak berfungsi (hilang) dan berubah menjadi bagian dari subjek kalimat. Kalimat di atas dapat diperbaiki menjadi:
Rumah besar itu terbakar.

Keparalelan
Yang dimaksud dengan keparalelan atau kesejajaran adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat, baik dari segi kategorinya maupun imbuhan yang digunakan. Maksudnya, kalau bentuk pertama merupakan nomina, maka kategori kata yang sederajat juga nomina. Kalau bentuk pertama merupakan verba, bentuk kedua, ketiga, dan seterusnya juga verba. Lebih khusus lagi, kalau bentuk pertama merupakan kata berawalan meng-, maka kata kedua, ketiga, yang sederajat juga merupakan kata berawalan meng-. Perhatikan contoh berikut!
Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes.
Kedua kata yang bergaris bawah pada kalimat di atas adalah predikat. Namun kedua kata yang sejenis tersebut tidak paralel. Kata dibekukan adalah verba yang berafiks di--kan, sedang kenaikan adalah nomina yang berafiks ke--an. Kedua kata itu seharusnya paralel.
Agar menjadi kalimat efektif, kalimat di atas dapat diperbaiki menjadi kalimat berikut.
Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara luwes.
Perhatikan pula kalimat berikut ini!
Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.
Kata bergaris bawah yang merupakan bagian dari predikat pada kalimat di atas tidak paralel. Kata bergaris pertama dan ketiga adalah nomina berafiks peng--an sedang kata berafiks kedua adalah verba berafiks meng-. Kalimat di atas dapat diperbaiki dengan mengubah kata bergaris bawah kedua menjadi nomina berimbuhan peng--an seperti berikut ini.
Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.

Sumber:
Pelajaran Bahasa Indonesia SMA/MA 2a
Karya Drs. H. M. Yusransyah, M. Pd.
Penerbit Grafika Wangi Kalimantan

 

0 comments:

Post a Comment

 
Copyright © . Pendidikan Bahasa dan Sastra - Posts · Comments
Desain Theme Template by Metamorfosa27 · Powered by Blogger